Rumah Ibadah Dan Identitas Keberagamaan
Kontekstualisasi Hadis Penghancuran Masjid Pada Masa Nabi Muhammad SAW
DOI:
https://doi.org/10.51700/aliflam.v1i2.234Kata Kunci:
Hadis, Masjid, Kontekstualisasi, dan KeberagamaanAbstrak
Rumah ibadah merupakan salah satu tempat sakral dalam masyarakat beragama. Selain itu, rumah ibadah juga merupakan salah satu ikon penting dalam suatu agama. Dalam konteks agama Islam, Nabi Muhammad pernah memerintahkan untuk menghancurkan rumah ibadah. Hal ini tentu kontrakdiktif dengan rumah ibadah sebagai tempat yang sakral dan ikonik. Tulisan ini membahas lebih jauh tentang hadis-hadis penghancuran rumah ibadah tersebut. Selain itu, tulisan ini juga mengkontekstualisasi nilai-nilai universal hadis tersebut dengan konteks keberagamaan di Indonesia. Teori double movement yang digagas oleh Fazlur Rahman yang lebih jauh dikembangkan oleh Abdullah Saeed menjadi sudut pandang dalam menganalisis realitas tersebut. Jika kembali kepada sejarah masa lampau, perintah penghancuran rumah ibadah pada masa Nabi disebabkan oleh keberadaan Masjid yang tidak memberikan manfaat kepada masyarakat Muslim. Bahkan justru sebaliknya, Masjid digunakan untuk memata-matai masyarakat Muslim kala itu. Jika melihat konteks itu, maka penghancuran Masjid di Indonesia dengan menggunakan hadis tersebut sebagai justifikasi tentu tidak tepat karena konteksnya yang berbeda.
Unduhan
Referensi
Al-Buthy, Muhammad Sa’id Ramadhan, (2010) Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiah
Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah Saw, Jakarta: Rabbani Press
al-Suyuthi, Jalaluddin, (2002) Lubabun Nuqul fi asbabin nuzul, Beirut: Muassah al-kutubi al-tsaqafiyah.
Biyanto, (2015) “Pluralism in the Perspektive of Semitic Religious” dalam Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, Vol. 5, No. 2
Claude Vatin, Jean, (1989) “Popular Puritanism versus State Reformism” dalam Muslim Preacher in The Modern World: A Jordanian Case Study in Comparative Perspektive, Richard T. Antoun, Princeton: Princeton University Press.
Hajar al-Asqalani, Ahmad ibn Ali ibn, Fath al-Barri, t.t: al-Maktabah al-Salafiyah, t.t.
Hamidah, (2015) “Al-Ukhuwah al-Ijtima’iyah wa al-Insaniyah: Kajian Terhadap Pluralisme Agama dan Kerjamasama Kemanusiaan” dalam Intizar, vol. 21, No. 2,.
http://Kupangkota.go.id/index.php/profil/kecamatan/alak/178-kelurahan-batuplat diakses pada 28 November 2017
http://simas.kemenag.go.id/index.php/home/ dilihat pada tanggal 22-Oktober-2017
http://www.wapresri.go.id/masjid-harus-memakmurkan-masyarakat/ diakses pada 20 Oktober 2017
Ibn Hajjaj, Muslim, (2006)S hahīh Muslim, t.t.: Dār al-Tayyibah.
Isma’il al-Bukhari, Muhammad ibn, (2002) Shahīh al-Bukhāri, Beirut: Dār Ibn Katsīr.
Ismail bin Umar bin Katsir, Abu al-Fida’, (1999) Tafsir Al-Qur’an al-Adzim, Riyadh: Dar Tayyibah li al-Nasr wa al-Tauji’.
K. Hitti, Philip, (2006) History of The Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta,
Kurniawan, Syamsul, (2014) “Masjid dalam Lintasan Sejarah Umat Islam” dalam Jurnal Khatulistiwa: Journal of Islamic Studies, vol. 4, no. 2, September.
Misrawi, Zuhairi, (2009) Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Muhammad SAW, Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.
Ramadan, Tariq, (2002) Teologi Dialog Islam-Barat: Pergumulan Muslim Eropa, terj. Abdullah Ali, Bandung: Mizan Media Utama,.
Sidi Gazalba, Mesjid: Pusat Ibadah dan Kebudayaan, Jakarta Pusat: Pustaka Antara, t.th.
Suyudi, (2005) Pendidikan dalam Perspektif al-Quran: Integrasi Epistemologi Bayani,
Burhani, dan Irfani, Yogyakarta: Mikraj.
Syam, Nur (2005) Islam Pesisir. Yogyakarta: LkiS.
Umar, Nasaruddin, (2014) Islam Fungsional: Revitalisasi dan Reaktualisasi Nilai-Nilai Keislaman, Jakarta: PT Elex Media Komputindo Kompas-Gramedia,.
Warson Munawwir, Ahmad, (1997.) Kamus al-Munawwir, Surabaya: Pustaka Progresif,
##submission.downloads##
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2021 Putri Krisdiana

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

